SCROLL

SELAMAT DATANG DI Uniek M. Sari's BLOG

Sabtu, 28 Januari 2012

JABATAN DAN KEPEMIMPINAN dalam TIRANI


Memasuki sebuah kantor lembaga pemerintahan, kemudian mendapatkan kenyataan bahwa pegawai di lingkungan lembaga tersebut susah sekali di ajak untuk ke arah perubahan menuju perbaikan. Baik itu perbaikan kinerja, perbaikan disiplin maupun perbaikan mutu pelayanan yang nantinya akan membawa pada perubahan sistem nilai di dalam pendapatan. Setelah beberapa lama berada dalam lembaga tersebut dan telah dilakukan gebrakan-gebrakan yang diharapkan membuahkan hasil, ternyata nihil. Tidak menghasilkan perubahan apapun juga. Kondisi ini tentu akan menimbulkan rasa pesimis akan keberhasilan dalam melakukan perubahan apalagi bila tujuan perubahan itu bukan untuk kepentingan perorangan melainkan untuk kepentingan bersama. Analisa matematika jabatan dan tirani ini dilakukan dengan bersandar pada situasi real yang ada dalam salah satu lembaga pemerintahan di negeri ini.

Sejarah Pemerintahan dan Kepemimpinan
Sejarah politik menyebutkan bahwa terbentuknya pemerintahan di awali dengan terbentuknya polish yakni kumpulan orang-orang yang membentuk satu kesatuan dan perwakilan dalam polish inilah yang membantu menyelesaikan kepentingan orang-orang yang tergabung dalam polish tersebut dalam memenuhi kebutuhan. Perkembangan penduduk-lah yang menyebab polish tidak mampu lagi memenuhi kebutuhan anggota polish maka berkembang menjadi pemerintahan. Sesuai dengan cara pemilihannya, sebagian besar pemimpin yang dihasilkan dalam sistem pemerintahan demokrasi yang masih murni ini adalah pemimpinnya dipilih secara langsung dan umumnya bersifat karismatik.

Sistem pemerintahan dari waktu ke waktu mengalami perubahan baik dalam hal bentuk maupun sifatnya. Ketika di awal pembentukan sangat jelas yang berlaku adalah pemerintahan dengan demokrasi murni karena pemilihan wakil di polish dilakukan langsng oleh anggota polish. Semakin banyak kebutuhan manusia membuat semakin berkembangnya kepentingan yang harus dipenuhi oleh wakil yang ada di polish. Akhirnya, sistem pemerintahan menjadi beraneka ragam dan salah satunya adalah sistem pemerintahan tirani atau kerajaan.

Sistem pemerintahan tirani ini bisa terbentuk karena memang cikal bakal polish-nya lebih dipengaruhi oleh karisma dari pimpinan polish yang kemudian dianggap sebagai “keturunan”. Namun ada juga sistem pemerintahan yang tirani yang dimulai dari sistem pemerintahan demokratis. Ini memberikan gambaran bahwa sistem yang dianut dalam sebuah pemerintahan bukan hanya dipengaruhi oleh terbentuknya sistem pemerintahan melainkan juga dipengaruhi oleh type pemimpinnya.
Sistem yang dianut dalam pemerintahan memberi dampak terhadap sistem yang berlangsung dalam lembaga-lembaga yang berada dalam sistem pemerintahan itu sendiri. Hanya beda-nya, apabila pada pemerintahan yang tirani akan dengan mudah di reformasi oleh masyarakat dimana sistem itu berada tidak demikian hal-nya bila melekap pada lembaga yang terdapat dalam sistem pemerintahan.


Deskripsi Jabatan dalam Tirani
Kalau di dalam sistem demokrasi jelas bahwa orang yang mengisi kedudukan untuk menyelesaikan kepentingan pemenuhan kebutuhan dilakukan secara langsung oleh anggota atau sistem, maka pada sistem tirani sebaliknya, orang yang mengisi kedudukan untuk menyelesaikan kepentingan pemenuhan kebutuhan dilakukan sesuai dengan kehendak pemimpin dalam sistem itu sendiri.

Ketika situasi itu dilekatkan pada lembaga pemerintahan maka pada pemimpin yang tirani terlihat bahwa penempatan seseorang pada jabatan tidak didasarkan pada demokrasi atau sistem melainkan didasarkan pada kehendak pemimpin dalam sistem itu sendiri. Landasan atas penetapan lebih cenderung bersifat subyektif dengan unsur like or dislike, love or hate. Dampak yang ditimbulkan dari sistem penetapan semacam ini adalah ditempatkannya seseorang dalam sebuah jabatan yang sebenarnya orang tersebut belum memenuhi kualifikasi untuk duduk di jabatan tersebut.

Dengan penetapan semacam ini seringkali terjadi peng-kebiri-an akan kekayaan intelektual sebab pencapaian visi dan misi di lembaga pemerintahan seringkali tidak bisa dipenuhi oleh pemegang jabatan yang tidak memiliki kualifikasi yang memadai tersebut. Untuk bisa memenuhi tanggungjawab terhadap lembaga dibebankan kepada staf yang memenuhi kualifikasi jabatan tersebut dengan mengedepankan hukum kepegawaian terhadap staf.

Matematika dalam Tirani.
Hal yang sangat berpengaruh terhadap perubahan sistem dalam lembaga pemerintahan adalah kurun waktu berlangsungnya sistem dalam sebuah lembaga. Di saat sebuah lembaga telah dipimpin  secara tirani maka tidak akan dengan serta bisa direformasi pada saat pemimpin lembaga tersebut diganti. Beberapa hal yang tertanam selama kepemipinan tirani ini adalah :
1.   Peng-kebiri-an intelektual dan kompetensi yang akan membawa dampak pada sikap pegawai yang skeptic, apriori dan kurangnya sense of belonging terhadap lembaga itu sendiri.
2.    Tidak tepatnya kualifikasi yang duduk dalam jabatan akan membawa dampak pada pemangku jabatan yakni hilangnya wibawa, hilangnya rasa hormat dan tidak terpenuhinya vis-misi lembaga pemerintahan.
3.      Berlakunya pola “yang bisa dekat dengan pimpinan akan mendapatkan jabatan” sehingga akan membawa dampak pada pola interaksi tidak sehat dimana salah satunya adalah perselingkuhan yang mudah dilakukan sebab kerapkali pimpinan dengan pola demikian mudah terjebak dalam hubungan yang tidak sehat.
4.       Terjadi gap antara golongan yang menganut pola lama dengan pola baru ketika diadakan perubahan baik disebabkan faktor kepemimpinan dan faktor lainnya.

Dampak-dampak yang ditimbulkan ini sangat mudah dibaca namun tidak mudah untuk dilakukan perubahan apalagi apabila di dalam lembaga tersebut terdapat hal-hal mendasar yang tidak memungkinkan untuk dilakukan perubahan secara drastis hubungan kekerabatan yang sangat kental sehingga hal-hal negative bisa tertutupi bahkan orang-orang di luar kekerabatan akan dengan mudah dijadikan kambing hitam. Perubahan dalam sistem tirani tidak dapat dilakukan secara sistematis sebab akan memakan waktu dua kali lipat dari lamanya sistem itu berkuasa.

The Act To Make a Change
Perubahan yang terjadi di Indonesia yang pernah dipimpin secara “tirani” selama lebih dari 30 tahun kemudian bisa dibelok-kan ke sistem demokrasi seperti sekarang ini, bukan dilakukan secara sistematis melainkan revolusi akibat tuntutan masyarakat. Hal-hal yang memperngaruhi keberhasilan perubahan adalah :
1.      Adanya tuntutan dari masyarakat yang jumlahnya lebih besar dari jumlah penguasa dalam pemerintahan itu sendiri
2.       Keinginan untuk melakukan perubahan itu menyebar rata di semua lapisan.
3.       Adanya dukungan intelektual sebagai motor penggerakan.

Tiga hal pokok tersebut mustahil ditemui dalam sebuah lembaga, apalagi kalau lembaga itu sudah tersusun tirani selama beberapa waktu lamanya. Hal yang mungkin dilakukan adalah :
  1. Memperhatikan sungguh-sungguh orang yang memiliki keinginan yang sama dalam melakukan perubahan. Ini dapat dilihat saat mengajukan gagasan tentang sebuah perubahan, orang-orang yang suka akan status quo (tidak ingin berubah) akan membantah gagasan itu dan kalaupun mereka menerima gagasan itu akan dibarengi dengan banyak pertimbangan negatif (dari buku mengenal kepemimpinan )
  2. Penerapan sanksi dan reward yang tepat dan tegas sehingga akan terasa perbedaan yang signifikan antara kondisi yang lama dengan kondisi perubahan tersebut. Untuk ini diperlukan komitmen yang kuat dari lembaga pemerintahan itu sendiri baik secara de jure maupun secara de facto.
  3. It's TOP - DOWN Planning not Bottom Up Planning.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Email

Entri yang Diunggulkan

MENILIK KELEMBAGAAN (Pengamatan dari 3 bagian)

S aya sudah pernah menulis mengenai kelembagaan BKKBN dalam artikel di  https://uniek-m-sari.blogspot.com/2015/02/uu-no-23-tahun-2014-dan-kk...